Mengingat masa lalu, teringat ucapan seseorang dalam suatu acara penting dalam kehidupan, ya, itu adalah acara hari ulang tahun. Namun, ucapan inilah yang akan membuat diri seseorang kesal dan bahkan dapat menganggap hanya sebuah lelucon sesaat. Apa yang diucapkannya? Sebuah prediksi masa depan yang membahas tentang tahun kematian seseorang. Hal tersebut tidaklah wajar disebut olehnya, mengingat dia merupakan mahasiswa yang mendalami ilmu Agama Islam. Tentunya orang awam pun tahu, bahwa memprediksikan masa depan adalah mustahil bagi manusia karena Allah lah yang mengatur segalanya.
Tak ada orang yang memercayainya, bahkan hal tersebut hanya dianggap sebagai lelucon yang melewati batasnya. Begitupun saya, sampai kapanpun tidak akan memercayainya. Karena saya tahu, hidup dan mati seseorang hanya Allah SWT yang tahu. Apalagi orang yang diprediksikan tersebut merupakan orang yang saya amat cintai di dunia ini. Sampai-sampai saya tak tahu cara untuk membalas kebaikan, kesabaran, keikhlasan, orang tersebut sampai dengan detik ini.
Sudah tiga tahun, sejak tahun 2010 lelucon tersebut telah dilupakan. Namun, pada tahun ini lelucon tersebut teringat kembali oleh dia, orang yang saya amat cintai. Pada tahun ini, memang kondisi kesehatannya tidaklah sebaik dulu. Berbagai tindakan medis telah dilakukan hingga penyakit yang dideritanya mulai menipis sampai pada batas maksimalnya. Namun, walaupun begitu, dia pun tetap berusaha berjuang melawan rasa sakitnya itu. Dan saya? Tak hanya bisa lakukan apa-apa. Kesabaran saya benar-benar di uji. Terkadang, rasa sabar saya tersebut menghilang dan hasilnya hanya menyakiti diri sendiri dan bahkan dia. Tapi, saya pun tersadarkan kembali. Memperjuangkan kesabaran demi dia. Dia selalu bertanya pada saya, "Apakah benar saya akan meninggal pada tahun 2014?". Saya pun menjawab, "itu hanya lelucon orang yang tidak waras saja, orang seperti itu jangan dipercaya, percayalah, hidup dan mati seseorang semua berada di tangan Allah SWT". Tiap seminggu sekali atau 2 minggu sekali, pertanyaan itu selalu muncul. Dan kesabaran saya pun menghilang setiap pertanyaan itu dilontarkan.
Berdo'a pun sudah saya lakukan, pemikiran positif pun sudah saya terapkan pada diri saya. Saya pun yakin dalam setahun dia pasti sembuh. Seratus persen sembuh total.
Minggu ini, merupakan minggu saya ujian tengah semester. Semuanya terlihat normal seperti biasanya. Bahkan yang mengantar dia ke RS pun juga tak berkata-kata apa-apa pada saya. Dan ternyata, ada seseorang yang saya percayai terceplos dari mulutnya. "Dokter bilang tadi, periode umur hidupnya berkisar antar 0 sampai dengan 1 tahun". Entah mengapa, waktu terasa terhenti pada saat kata-kata tersebut di lontarkan. Antara percaya dan tidak percaya, kenapa orang yang mengantar dia tak berkata apa-apa? Kenapa? Setiap saya ujian, selalu saja ada berita yang saya tidak sukai dan kenapa tidak ada yang ingin memberti tahu saya. Itupun diberi tahu karena orang tersebut keceplosan. Entah kenapa saya merasa seperti terasingkan.
Namun, hal tersebut tidaklah terlalu saya pikirkan. Yang ada di benak saya ini, saat ini adalah, meyakini diri saya sendiri bahwa Allah akan memberikan mukzizatnya. Dokter hanyalah sebuah dokter, dia hanya memprediksi, dan prediksiannya tersebut akan meleset. Berbeda dengan mahasiswa itu yang dengan lantangnya meyakini pada tahun kematiannya. Walaupun dengan secara kebetulan, sesuai dengan prediksi dokter. Tapi tetap, saya yakin, Allah pasti memberikan mukzizatnya. Saya tidak akan kalah pada kekuatan prediksi itu. Saya harus buktikan pada dia bahwa lelucon mahasiswa itu salah, walaupun sampai saat ini dia belum diberi tahu mengenai periode umur hidupnya.