Monday, December 27, 2010

Runtuh

Tatapan pertama ku dengan mu
Hatiku tak menemui adanya getaran
Namun perlahan lahan 
Engkau telah membangun benteng dalam hatiku

Sebuah benteng cinta
Cinta yang melaju tinggi
Yang membuaiku dalam khayalan
Khayalan yang tiada akhir

Namun benteng itu kau runtuhkan
Bersama dinginnya angin malam
Kau hancurkan segala puing-puing yang ada
Tinggalah kenangan berdirinya benteng itu

Tetesan air hujan dari hati
Satu per satu mulai turun
Gerimis kecil tanpa adanya teduhan
Yang berubah menjadi hujan lebat
Untuk hilangnya puing-puing yang pernah ada

Mengapa kau membangun sebuah benteng jika kau akan meruntuhkannya?
Karena seberapapun kau menghancurkannya, namun sisa puing-puing masih tetap ada dalam hatiku


Thursday, November 11, 2010

Nostalgia Air dan Api


Apa mau ku? Apa mau mu? Selalu menjadi satu masalah yang tak kunjung henti...

Tiga tahun lebih sudah ku tak mendengarkan lagu ini, lagu dimana menjadi salah satu sejarah hidup ku yang tak pernah kulupakan. Mengapa kini ku mendengarnya lagi, sehingga mengingatkan semua masa lalu bahagia ku?

Jaman SMP (Sekolah Menengah Pertama) adalah masa-masa dimana kita mengenal masa keremajaan kita. Dimana kita mengenal arti cinta, pershabatan, dan kemandirian. Lantas, apa hubungan lagu ini dengan masa SMP ku? Anda mau tahu? Akan kuberitahu...

Waktu itu, aku sekolah di SMP Negeri 103 Jakarta. Sekolah yang sangat berarti buat ku, walaupun ku hanya mengalami dua tahun. Untuk melengkapi kelulusan kelas 9, kami diberi Ujian Praktek Pelajaran Seni Musik oleh guru kami tercinta, Ibu Nunuk Kustini. Dalam format apa kah ujian praktek ini? 

Kami disuruh olehnya untuk membuat suatu kelompok, dimana kami harus menampilkan suatu karya musik dengan berbagai macam instrumen musik. Waduh??!! Kami pun bingung, karena pada saat itu, tingkat pengetahuan permainan musik kami pun sangat minim dan tidak semua alat musik pun bisa kami mainkan. Jreng jreeng jreeng... lalu gimana doonk? Teruuss gan... 

Tidak usah dibikin sulit, yang penting kita bikin anggotanya dulu. Siapakah kami?? Pasti udah gak sabar kan, mau lihat personilnya yang keren-keren ini... hehe ... GR dikit boleh laaah... Butuh sehari untuk menetapkan anggota,  akhirnya kita memilih anggota yang satu banjar kursi. Terdiri dari Miftha, Karin, Cheppy, Caroko, Araz, Argo, Khrisna, Rusuk, Romi, Rahadityo dan Tasya. Banyak kan?? Lanjuuutt,,, 

Masalah terbaru muncul, kita main alat musik apa niih?? Waduuh.... lagian alat musik kami juga terbatas.., tapi teringat musik ala pengamen yang cukup hanya dengan modal beras dan botol, hehe.. tapi kan kita personilnya banyak, masa semuanya main beras dan botol? Tidak ada melodinya sama sekali kecuali suara-suara kami yang fals. Akhirnya, Araz pun memberikan pinjeman Organ super kecilnya serta Tam-Tam temannya, lumayan lah untuk nambahin nada-nada. Lalu siapa yang megang?

Akhirnya, masing-masing dari kami mendapatkan alat musik. Miftha dan Tasya memegang suling. Caroko, Rahadityo, dan Cheppy memegang botol beras. Romi memegang alat ting-ting berupa botol dan sendok. Rusuk memegang pianika. Karin memegang organ super kecil milik Araz. Araz sendiri memegang Tam-Tam milik temannya. Finally, kita udah megang masing-masing alat.

Masalah selanjutya, dimanakah kita akan berlatih? Tentu saja menurut Anda, hal ini tidaklah sulit. Tapi bagi kami, hal ini adalah hal yang perlu diperhatikan karena jarak rumah kami jauh-jauh. Dan kita pun harus membawa variasi peralatan musik. Akhirnya, kita memutuskan untuk latihan di rumah Araz karena peralatan musiknya ada disana, setelah itu baru kita bawa ke lain tempat. Perjalanan cukup jauh, sehingga membuat kami ngantuk. Tiba disana, kami pun bingung, apa yang harus kami latih. Akhirnya, saya dan Miftha pergi ke warnet untuk mencari lagu-lagu dengan duit pas-pasan. Akhirnya, hasil dari latihan itupun nihil. Tapi, asiknya bisa main-main. Harap maklum, anak SMP. Masih Ababil gitu loo.. hehehe

Tapi, walaupun hasilnya nihil, seusai itu saya pun mencoba cari-cari lagu apa yang akan kami mainkan. Awalnya kita setuju dengan lagu Gea- Semoga Kau Mengerti, akan tetapi, suling tak bisa mengikutinya karena nada terlalu tinggi. Akhirnya, dead line pun mendekati. Tinggal lima hari lagi untuk ujian praktek. Akhirnya, kami menemukan lagu yang cocok untuk ujian kami yaitu Naff- Air dan Api. Kami pun terus dan terus berlatih hari demi hari, mencuri-curi jam kosong di sekolah. Adapun latihan terakhir, yaitu di rumahku. Hasilnya cukup memuaskan, walaupun kami stress berat. Tapi kami semua bahagia. 

Hari H pun tiba, kami memainkannya di ruangan alat musik sekolah. Kami semua turut bernyanyi, dan lagu yang kami pilih cukup meramaikan dan merubah menjadi suasana yang hangat. Masa lalu itu tak pernah bisa diputar kembali, apalagi setelah tiga tahun. Masa-masa yang tak kan kami lupakan. Masa Air dan Api.

Saturday, October 30, 2010

Malangnya Negaraku

Kudengarkan lagu Berita Kepada Kawan, yang dipopulerkan oleh Ebiet. G. Ade, seorang penyanyi terkenal di Indonesia. Diriku pun menangis dan meratapi dengan apa yang terjadi dalam negaraku ini. Negara yang sangat aku sayangi dan aku cintai. Seiringnya lagu bermain, akupun menuliskan apa yang ada dibenakku melalui blog ku ini. 

Fikiranku tidak luput dari bencana yang telah terjadi di Indonesia. Gempa, tsunami, aktifnya kembali gunung-gunung, angin puting beliung, bertubi-tubi mencelakakan Indonesiaku ini. Seperti lagu yang dipopulerkan Ebiet G. Ade, alam mulai enggan bersahabat dengan kita. Mengapa demikian?

Mengapa hanya negara kami? Sungguh aku menangis serta ketakutan, bagaimana kalau hal itu menimpaku? Apa yang akan aku lakukan? Sungguh aku sangat bersyukur kepada Allah SWT, karena Dia masih melindungi aku serta keluargaku dari segala marabahaya.

Bencana ini, hanya bisa membuat para saksi mencaci maki satu sama lain. Padahal bencana terjadi secara alami dan oleh karena diri kita sendiri. Kita tak pernah menyadari apa yang kita perbuat selama ini. Kita tak pernah menjalankan amanat yang diberikan oleh Allah SWT seperti menjaga bumi ini. Kita melakukan apa saja yang kita suka demi kenyamanan sementara. Kita pun tidak pernah menghargai lingkungan kita. Tapi masih saja, kita menyalahkan satu sama lain atas bencana ini. Kita seharusnya sadar atas sikap kita selama ini. Sikap kita terhadap lingkungan kita, entah itu alam maupun warga sekitar. Terlalu banyak kesalahan yang kita lakukan, sehingga Allah SWT senantiasa memperingatkan kita atas kekuasaanNya. 

"Ya Allah, kumohon ampunilah segala dosa negara kami, lindungilah bangsaku ini dari segala marabahaya, dan jujunglah kami ke jalan yang benar serta menjaga setiap apa yang Kau berikan kepada kami. Amiiin. Rabbana atiina fiddunia hasanah wa fill akhirati hasanah wa kinna adzabannar. Amiin."


Wednesday, September 29, 2010

Mau Dibawa Kemana Bangsaku Ini?

Mungkin kalian semua heran, seakan pernah mendengar lirik lagu seperti ini. Iya betul sekali! Lagu Armada - Mau dibawa kemana, adalah sebagian kutipan untuk judul blog saya yang satu ini. Kenapa? Hari ini merupakan peristiwa menyeramkan yang terjadi dinegeri tercinta ku ini. Terjadi sebuah tawuran di Ampera, yang ternyata lokasinya tidak terlalu jauh dari universitas saya, yaitu Universitas Nasional yang terletak di Pejaten, Pasar Minggu.

Sungguh mengagetkan ketika saya mendengar berita ini dari salah satu teman saya. Sungguh memalukan sifat masyarakat bangsaku ini, bagaimana kita ingin membanggakan negara kita, kalau disatu sisi sedang terjadi keambrukan. Sungguh sangatlah susah untuk mencermikan lagi nama baik bangsa ku ini. Ampera merupakan daerah yang sangat tak asing lagi untuk kunjungan orang asing.

Yang saya sesalkan mengapa semua permasalahan ini harus diselesaikan dengan cara kekerasan? Padahal ujung dari masalah ini adalah hal yang sepele bukan? Dimanakah letak kecintaan masyarakat pada bangsanya, lingkungannya, keluarganya, dan dirinya sendiri? Dan mengapa orang-orang yang tidak bersalah ikut menjadi korban permasalahan pribadi ini?

Semoga generasi penerus bangsa ini tidak mengikuti jejak leluhurnya, yang tanpa pikir ulang mengorbankan banyak nyawa. Semoga generasi penerus bangsa ini dapat memperbaiki nama bangsa ini kembali. Semoga generasi penerus bangsa ini dapat memimpin bangsa dengan baik. Semoga generasi penerus bangsa ini, beraksi kritis dan cinta damai. Tapi sampai berapa generasi penerus  yang akan selalu memperbaiki masalah leluhur kita? Berikanlah kami contoh yang baik.


Puisi Yang Hilang

Telah kuhilangkan segala kenangan manis
Yang kau ubah menjadi pahit!

Mengapa engkau memberiku segala
Kasih sayangmu,
Ketulusan cintamu,
dan hatimu,
Kalau pada akhirnya engkau memberikan aku tuba?

Sungguh ku tak pernah mengerti jalan fikirmu.


Wednesday, August 11, 2010

Story of a Girl


No one knows what had happened to that girl
She always smiled but her sorrow always shows
As if the sun would not shine it’s rays

She always smiled to everyone
Acting as if nothing happened to her
Her eyes show many hopes in life
But unluckily destiny talks different

She had confused everyone with her condition
But everyone knows what is in her heart
Pain that she would always carry throughout her whole life

She needed something to shine her light
The sun inside her had disappeared,
She needed a moon to shine her light

Days before her birthday
A moon came to her life
She was confused

Why?
She is scared
Scared of the moon
Scared that the moon would not shine just like the sun

So she delayed days to accept the moon
The moon tried to convince her
Convinced that he would always shine her life

She thought about it over and over
Until her birthday comes
The moon gave her a gift
A small letter with many meanings

She was surprised
Surprised of what the moon did in her birthday

One hundred candles was given by the moon
The moon hoped that she would blow them all
With the best wish she had

She read the letter
Written in a handwriting full of love and warmth
Only the moon and she would understand the letter
And then she accepted the moon




















Her life had shine again
Everyone smiled
Feeling very happy for her
And hope that she would never be sad again


Saturday, April 3, 2010

Sonjai!! Where are you??!!

It was Thursday afternoon, my family decided to go to out. It has been a long time we haven't get together for a while. So, it was decided, that afternoon, to go to a Chinese Restaurant called "Panda". It was the most delicious Asian restaurant in Khartoum, Sudan.

At about 8: 30 in the evening, seven people rode on a small car to the restaurant. It includes my parents, my cousin, my three brothers, not forgetting myself alone. We arrived 15 minutes after the departure time. We sat in a seven chair round table with a small tree figure that decorated it. We ordered a lot of food menus that night.

It took about 45 minutes waiting for our orders to arrived. My stomach grumbled already. Finally, 7 bowls accompany with its spoon had arrived. But where's the food? We had to wait 5 minutes again for the soup to arrive. Sweet corn soup was the first dish that arrive followed by other dishes to arrive. While the dishes are about to finish, suddenly my mom remembered that the steamed fish with green pepper is not served yet. I surprisingly remembered that the roasted beef with iron plate was not served yet also. So I called the waiter which is the thing I hated to do at that night. Because every time the waiter came nearby, it stinks the table aura. He smelled like he haven't took shower for three months. You could imagine how bad it was. But anyway, it was a good thing that he was not the chef or else I wouldn't come to that place again. However, back to the main story. I called the waiter and he said that these dishes needs time. So we waited about for another 5 minutes again. I know. This restaurant moves very impractically. 

Finally, the last dishes came. It was the tastiest dishes ever besides the crispy savory duck. Crispy savory duck was my most favorite dishes ever. Every time I go to a Chinese restaurant, I always search for this menu. However, back again to the main topic. Our stomach were very stuffed. I could barely breath with it. So after done eating, I went to the cashier to pay while others are still talking in the round table. After that, I called my brother to take a picture of me in front of the beautiful view of the restaurant. While taking pictures, I saw a Chinese man and woman peeking at us. They looked pretty young. I guessed. But I wondered of what were they peeking at. I felt embarrassed after I thought that they were peeking at my brother and I. But anyway, after taking few pictures of me alone, you could see how narcissistic I am, I return back to the table and sat in the chair there. 20 minutes of talking causes our stomach to be normal again, so we decided to go home.
 
My father went first to the car, while the others were still walking away from the restaurant. Suddenly, I screamed which made my mom and cousin screamed also. I saw a dog running so fast along us. I said to everyone there, "there's a dog behind us". My mom replied, "that was a dog? I thought that was a sheep?" Everyone laughed at my mom. How could a dog looked like a sheep? It's a major big difference! After that the dog ran away again out of the restaurant.

Suddenly the Chinese man that was peeking at us went out calling us. I didn't noticed that he was calling. But two of my brothers noticed him. He was calling us with his Chinese accent which made us very confused. A word we heard from him, "Sonjai sonjai" with his hand calling us to go to him. So my brother with his own initiative went to him and asked, "What happen?" We thought that the cashier was mistakenly miscalculate. So we waited for him to come back. After he came back, we asked him of what did the Chinese guy want. So my brother explained, "I asked him what happened and then shit!! You know what he said??!! He said nothing, 'I'm just looking for my dog'" . Everyone laughed. my older brother teased him on the way home, "since when are you a dog dude??" Everyone said to my poor brother, "He insulted you. Hahahah" Sonjai come here.. Sonjai, my doggy. My doggy!! hahahaha.