Apa mau ku? Apa mau mu? Selalu menjadi satu masalah yang tak kunjung henti...
Tiga tahun lebih sudah ku tak mendengarkan lagu ini, lagu dimana menjadi salah satu sejarah hidup ku yang tak pernah kulupakan. Mengapa kini ku mendengarnya lagi, sehingga mengingatkan semua masa lalu bahagia ku?
Jaman SMP (Sekolah Menengah Pertama) adalah masa-masa dimana kita mengenal masa keremajaan kita. Dimana kita mengenal arti cinta, pershabatan, dan kemandirian. Lantas, apa hubungan lagu ini dengan masa SMP ku? Anda mau tahu? Akan kuberitahu...
Waktu itu, aku sekolah di SMP Negeri 103 Jakarta. Sekolah yang sangat berarti buat ku, walaupun ku hanya mengalami dua tahun. Untuk melengkapi kelulusan kelas 9, kami diberi Ujian Praktek Pelajaran Seni Musik oleh guru kami tercinta, Ibu Nunuk Kustini. Dalam format apa kah ujian praktek ini?
Kami disuruh olehnya untuk membuat suatu kelompok, dimana kami harus menampilkan suatu karya musik dengan berbagai macam instrumen musik. Waduh??!! Kami pun bingung, karena pada saat itu, tingkat pengetahuan permainan musik kami pun sangat minim dan tidak semua alat musik pun bisa kami mainkan. Jreng jreeng jreeng... lalu gimana doonk? Teruuss gan...
Tidak usah dibikin sulit, yang penting kita bikin anggotanya dulu. Siapakah kami?? Pasti udah gak sabar kan, mau lihat personilnya yang keren-keren ini... hehe ... GR dikit boleh laaah... Butuh sehari untuk menetapkan anggota, akhirnya kita memilih anggota yang satu banjar kursi. Terdiri dari Miftha, Karin, Cheppy, Caroko, Araz, Argo, Khrisna, Rusuk, Romi, Rahadityo dan Tasya. Banyak kan?? Lanjuuutt,,,
Masalah terbaru muncul, kita main alat musik apa niih?? Waduuh.... lagian alat musik kami juga terbatas.., tapi teringat musik ala pengamen yang cukup hanya dengan modal beras dan botol, hehe.. tapi kan kita personilnya banyak, masa semuanya main beras dan botol? Tidak ada melodinya sama sekali kecuali suara-suara kami yang fals. Akhirnya, Araz pun memberikan pinjeman Organ super kecilnya serta Tam-Tam temannya, lumayan lah untuk nambahin nada-nada. Lalu siapa yang megang?
Akhirnya, masing-masing dari kami mendapatkan alat musik. Miftha dan Tasya memegang suling. Caroko, Rahadityo, dan Cheppy memegang botol beras. Romi memegang alat ting-ting berupa botol dan sendok. Rusuk memegang pianika. Karin memegang organ super kecil milik Araz. Araz sendiri memegang Tam-Tam milik temannya. Finally, kita udah megang masing-masing alat.
Masalah selanjutya, dimanakah kita akan berlatih? Tentu saja menurut Anda, hal ini tidaklah sulit. Tapi bagi kami, hal ini adalah hal yang perlu diperhatikan karena jarak rumah kami jauh-jauh. Dan kita pun harus membawa variasi peralatan musik. Akhirnya, kita memutuskan untuk latihan di rumah Araz karena peralatan musiknya ada disana, setelah itu baru kita bawa ke lain tempat. Perjalanan cukup jauh, sehingga membuat kami ngantuk. Tiba disana, kami pun bingung, apa yang harus kami latih. Akhirnya, saya dan Miftha pergi ke warnet untuk mencari lagu-lagu dengan duit pas-pasan. Akhirnya, hasil dari latihan itupun nihil. Tapi, asiknya bisa main-main. Harap maklum, anak SMP. Masih Ababil gitu loo.. hehehe
Tapi, walaupun hasilnya nihil, seusai itu saya pun mencoba cari-cari lagu apa yang akan kami mainkan. Awalnya kita setuju dengan lagu Gea- Semoga Kau Mengerti, akan tetapi, suling tak bisa mengikutinya karena nada terlalu tinggi. Akhirnya, dead line pun mendekati. Tinggal lima hari lagi untuk ujian praktek. Akhirnya, kami menemukan lagu yang cocok untuk ujian kami yaitu Naff- Air dan Api. Kami pun terus dan terus berlatih hari demi hari, mencuri-curi jam kosong di sekolah. Adapun latihan terakhir, yaitu di rumahku. Hasilnya cukup memuaskan, walaupun kami stress berat. Tapi kami semua bahagia.
Hari H pun tiba, kami memainkannya di ruangan alat musik sekolah. Kami semua turut bernyanyi, dan lagu yang kami pilih cukup meramaikan dan merubah menjadi suasana yang hangat. Masa lalu itu tak pernah bisa diputar kembali, apalagi setelah tiga tahun. Masa-masa yang tak kan kami lupakan. Masa Air dan Api.
No comments:
Post a Comment