Entah mengapa hari ini aku melakukan sesuatu yang berbeda. Tidak biasanya aku membuka laci lemariku yang berisikan semua barang-barang pribadi pentingku. Lebih anehnya lagi, aku tau apa yang aku ingin ambil. Sebuah diary-diary, diary dimana berisikan masa laluku. Dulu, aku tak pernah ingin melihat diary-diary tersebut, jangankan melihat, menoleh pun aku tak mau. Tapi mengapa hari ini, aku memberanikan diri untuk mengambilnya?
Terlintas di benakku tentangnya ketika aku sedang mendentingkan piano kesayanganku. Akupun tidak konsen atas lagu yang sedang aku mainkan. Aku pun mengalihkan lagu yang sedang aku mainkan, dan tiba-tiba aku pun memainkan lagu yang mengingatkan aku padanya. Padahal sudah bertahun-tahun aku lupa padanya. Seusai memainkannya, aku memandangi diary-diary ku yang aku ambil dari laci. Aku membuka diary tertua ku. Melewati beberapa tanggal yang tercantum dalam diary tersebut. Lalu aku berhenti pada tengah halaman diary aku tersebut. Saya pun tertegun, bingung, mengapa halaman selanjutnya kosong. Mengapa aku baru menyeritakannya dihalaman akhir, namun tidak aku lanjutkan?
Saya pun menaruhnya kembali diary itu, dan mengambil diary ku yang kedua. Diary yang aku beli di Solo tahun 2007. Aku teringat, aku tak ingin mencampurkan ceritaku dengannya di dalam diary lama ku karena diary lama ku berisikan kisah masa lalu ku yang kelam bersama seseorang sebelum ku bertemu dengannya. Aku membukanya, halaman pertama digabungkan dengan halaman kedua berisikan kisah ketika aku membeli diary tersebut. Lalu, aku termenung melihat halaman ketiga. Halaman ketiga yang mengingatkan aku lebih tajam lagi padanya yaitu pertemuan aku dengannya. Kapan, dimana, dan bagaimana aku bertemu dengannya. Akupun tersenyum, tersipu malu dengan kisah yang aku tuliskan. Dimana aku sedang merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya, bukan sekedar cinta monyet.
Huruf demi huruf aku baca secara seksama, tersenyum-senyum setiap halaman yang aku baca. Dalam diary itu, aku menuliskan semua sms darinya yang dia kirimkan kepadaku sebelum dan setelah kita jadian. Waktu dia masih PDKT untuk mendapatkan aku. Dulu aku hanya seorang remaja yang masih belum mengenal jati diri, yang belum berfikir secara panjang, yang hanya mengandalkan perasaan dan sedikit logika. Aku sadar betapa bodohnya aku pada saat itu, betapa lucunya kelakuan aku dulu. Ketawa tersipu-sipu malu atas rayuan gombal yang dia kirimkan untuk aku saat itu. Setiap sms yang dia kirimkan ke aku, tiap kata sayangnya dan cintanya dia terhadap aku. Tiap lelucon manisnya dia terhadap aku. Lalu, aku sadar, dulu dia emang sangat sayang dan cinta sama aku. Namun....
Lalu buku itu habis, ku meletakannya kembali di meja yang ada di hadapan ku. Ku ambil diary ketiga, diary terakhirku. Diary ketigaku ini tidak ada yang spesial. Hanya sebuah buku tulis biasa yang bergambarkan pemain bola internasional yang terkenal. Dalam buku ini, masih berkisah tentangnya. Namun ada perbedaan, yaitu ditulis ketika kita harus merasakan kerinduan yang sangat dahsyat. Dimana kita saling menunjukkan karakter yang berbeda dari yang dulu. Namun kisah ini terhenti setelah beberapa halaman. Selanjutnya, buku itu pun kosong. Tak ada kisah.
Ku menutupnya kembali. Ku merenungi apa yang terjadi dalam masa lalu, apa yang terjadi setelah itu. Entah mengapa, ku merindukan saat-saat yang dulu. Saat-saat indah bersamanya. Namun, ku lenyapkan kerinduan itu. Aku merasakan kepedihan mengingat kejadian setelah itu. Luka di hati, yang tak mampu kembalikan masa yang dulu.
No comments:
Post a Comment